BaraJatim.com Tentang Kami Contact Us Info Iklan Privacy Policy
Barisan Relawan Jalan Perubahan (BARA JP) Provinsi Jawa Timur Mengucapkan Selamat dan Sukses Atas Terselenggaranya MUSDA & Pengukuhan BaraJP Jatim di RM. Mahameru Jl. Diponegoro 152 Surabaya 24 Agustus 2016, Bara JP Jatim Mengucapkan Selamat HUT RI Yang ke 71 Th Indonesia Merdeka
Home » » Tawaran Rusia untuk Indonesia Menggunakan Gas Rusia, Dipertimbangkan Pemerintah

Tawaran Rusia untuk Indonesia Menggunakan Gas Rusia, Dipertimbangkan Pemerintah

Written By nasional on Selasa, 19 November 2019 | 05.57

JAKARTA, barajatim.com | Saat ini, pemerintah Indonesia sedang melakukan kesepakatan bisnis dengan beberapa negara seperti Rusia dan Amerika Serikat dalam melakukan  kontrak jual-beli gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG) dengan PT Pertamina (Persero). Kesepakatan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi defisit kebutuhan LNG  berdasarkan prediksi yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM, yaitu setelah tahun 2020. Amerika telah berusaha keras demi menjauhkan Uni Eropa dari gas Rusia, tapi belum lama ini Amerika-pun harus menggunakan minyak dan gas Rusia.

Pada akhir Januari 2018, sebuah kapal bernama Gaselys tiba di Pelabuhan Boston. Ia membawa sesuatu bagi New England, AS yang sedang dilanda cuaca dingin  sangat butuhkan: gas alam cair. Meski fakta bahwa AS menghasilkan sumber dayanya sendiri, ia terpaksa memesan dari luar negeri, sehingga beralih ke perusahaan Prancis Engie yang membeli bahan bakar di pasar global, termasuk gas yang diproduksi oleh Novatek, perusahaan Rusia. Setelah kapal tanker pertama itu, kapal kedua tiba pada 2 Maret 2018, dan ini tidak berbuat banyak untuk memperbaiki citra AS sebagai salah satu produsen gas alam cair terkemuka di dunia, terutama setelah usaha Washington untuk meyakinkan negara-negara Uni Eropa untuk menurunkan ketergantungan mereka pada gas Rusia  dan sebagai gantinya membeli yang milik AS. Polandia dan Lituania mulai membeli dari seberang Atlantik, namun negara-negara lain mengulur-ulur waktu mereka. Menurut raksasa energi Rusia Gazprom, pada akhir Februari mereka memasok gas dalam jumlah banyak ke Eropa setiap hari (sekitar 655,2 juta meter kubik)  semua dikarenakan cuaca yang terlalu dingin. Ekspor tahunan gas ke luar negeri juga meningkat. Kepala perusahaan Alexei Miller mengatakan kepada surat kabar Vedomosti bahwa pada 2017 Gazprom memasok gas sebanyak 193,9 miliar meter kubik ke luar negeri, atau meningkat 8.1 persen dibanding 2016. Sekarang mereka menikmati pangsa terbesar sepanjang masa di pasar energi Eropa yaitu 34,7 persen. Pengimpor utama gas Gazprom adalah Jerman: Pada 2017, mereka mengimpor 53,4 miliar meter kubik, rekor. Negara-negara lain seperti Austria, Denmark, Belanda, Hongaria, Republik Ceko, Latvia, Lituania, dan Estonia juga telah meningkatkan impor gas Rusia mereka selama setahun terakhir sementara Italia, Inggris, dan Polandia sedikit menurunkan pesanan mereka. Untuk melihat persaingan nyata antara Rusia dan pemasok energi lainnya adalah pada dasarnya harga produk yang kurang lebih sama, akan tetapi untuk saat ini, gas Rusia termasuk yang termurah di pasaran. Menurut Vedomosti, harga gas alam cair Novatek (termasuk transfer ke Eropa dari Yamal) adalah 3,83 juta dolar AS per satu juta BTU (british thermal unit) atau hanya kalah dari Qatar dengan 3,19 juta dolar AS per satu juta BTU. Bandingkan dengan, harga gas alam cair AS adalah $ 6,83 juta per satu juta BTU.


Proses pembangunan infrastruktur energi seperti proyek Nord Stream 2 sedang berjalan ,  akan memungkinkan Rusia menjangkau lebih banyak konsumen Eropa. Sementara banyak negara Barat mungkin bisa bertahan tanpa gas Rusia, mereka tetap akan terus memilihnya karena ini adalah pilihan terbaik dalam hal rasio harga-kualitas, demikian kata Roman Blinov, pakar di Pusat Keuangan Internasional di Rusia. Konsumsi gas di Eropa tumbuh setiap tahunnya yang menyebabkan peningkatan impor gas dan minyak, akibatnya, seluruh Eropa Tengah dan Barat akan menjadi lebih bergantung pada barang dari Rusia. Saat ini, lebih dari sepertiga dari semua energi yang dikonsumsi di Eropa berasal dari Rusia, dan dalam 20 tahun ke depan kita tidak akan heran jika indikator ini mencapai 50 persen. Proyeksi terbaru dari British Petroleum juga menunjukkan bahwa meskipun AS mungkin memperoleh keuntungan sebagai produsen gas global dan memiliki persentase  total produksi gas yang lebih besar dari Rusia pada 2040 dibandingkan dengan Rusia (24 persen melawan 14 persen), masih sulit bagi mereka untuk menggantikan Rusia sebagai pengekspor minyak dan gas bumi terbesar. Analis BP mengatakan ekspor AS hanya akan mencapai 360 Mtoe (juta ton setara minyak) gabungan minyak dan gas. atau kurang dari setengah dari Rusia (780 Mtoe pada 2040). Cadangan gas alam Rusia termasuk yang terbesar di dunia (32,3 triliun meter kubik pada 2016) dan ini akan memberi negara keuntungan untuk mempertahankan status pengekspor gas utama selama 20 tahun ke depan, demikian menurut Ivan Kapitonov, Wakil Direktur Fakultas Kebijakan Ekonomi Pemerintah di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia. Menurutnya, selama 20 tahun ke depan, seiring bertambahnya jumlah pemasok energi, volume perdagangan energi mungkin turun, negara-negara yang memiliki cadangan sumber daya tradisional yang lebih besar tentu saja berkesempatan untuk mendapatkan posisi terdepan di pasar. Rusia bukan pengecualian. Mereka secara aktif mengembangkan opsi untuk ekspor sumber daya alam, dan berita terbaru tentang pasokan gas alam cair adalah buktinya. Melihat hal ini maka sudah seharusnya Indonesia mempertimbangkan tawaran Rusia untuk Indonesia bisa membeli dan menggunakan gas Rusia dengan harga yang kompetitif (NM)
Share :
Related Article

Isi Komentar Anda

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi Globalaceh.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

 

Berita FotoIndeks

Jawa TimurIndeks

Lintas DaerahIndeks