BaraJatim.com Tentang Kami Contact Us Info Iklan Privacy Policy
Barisan Relawan Jalan Perubahan (BARA JP) Provinsi Jawa Timur Mengucapkan Selamat dan Sukses Atas Terselenggaranya MUSDA & Pengukuhan BaraJP Jatim di RM. Mahameru Jl. Diponegoro 152 Surabaya 24 Agustus 2016, Bara JP Jatim Mengucapkan Selamat HUT RI Yang ke 71 Th Indonesia Merdeka
Home » » Penyebab Tanah Retak Di Ponorogo Karena Alih Fungsi Lahan

Penyebab Tanah Retak Di Ponorogo Karena Alih Fungsi Lahan

Written By nasional on Selasa, 10 Januari 2017 | 22.29

PONOROGO,  Dari penilitian tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Bandung, ternyata yang menyebabkan tanah retak di beberapa lokasi di Ponorogo, Jawa Timur,  dikarenakan alih fungsi lahan dari hutan menjadi permukiman.



Menurut ketua Tim Peneliti, Heri Purnomo, ada empat titik yang disurvei dari belasan titik tanah gerak yang dilaporkan DPBD Ponorogo ke Badan Geologi. Titik yang disurvei tersebut adalah Desa Bekiring Kecamatan Pulung, Desa Sriti dan Tempuran Kecamatan Sawoo, Desa Talun Kecamatan Ngebel dan Desa Tugurejo Kecamatan Slahung.

"Ada empat penyebab terjadinya tanah gerak di Ponorogo. Yaitu jenis tanah yang merupakan tanah pelapukan, kondisi kemiringan tanah yang terjal, curah hujan yang tinggi selama setahun terakhir dan alih fungsi lahan," terang Heri Purnomo saat berada di Tugurejo, kepada wartawan, Selasa 10 Januari 2017.

Menurutnya lagi, seluruh wilayah di Ponorogo rawan tanah gerak. Terutama yang berada di lereng gunung. Hal ini mengingat Ponorogo didominasi daerah yang berada di lereng Gunung Wilis dan berbukit-bukit.

Dijelaskan Heri, di semua lokasi yang didata, termasuk di Tugurejo, jenis tanahnya merupakan tanah pelapukan sehingga mudah tergerus air dan tidak memiliki daya cengkeram yang kuat dangan lapisan batuan di bawahnya. Kemiringan cukup terjal sekitar 70 derajat sehingga mudah menggelincir. Sedangkan curah hujan yang tinggi membuat air mudah meresap dan membuat tanah semakin gembur sehingga mudah bergerak.

"Yang juga sangat berpengaruh adalah alih fungsi lahan. Dari hutan yang memiliki tanaman keras dan akar yang kuat menjadi pemukiman, ladang, kebun atau sawah. Hal ini membuat air yang meresap tidak ada yang menahan karena tidak ada akar di bawah sana. Akibatnya, tanah menggembur dan mudah meluncur," paparnya.

Untuk itu, tim merekomendasi agar warga segera mengungsi ke lokasi yang aman bila terjadi hujan. Sebab kemungkinan pergerakan tanah masih akan terus terjadi. Pembuatan selokan untuk mengalirkan air hujan langsung menuju sungai juga sangat disarankan selain segera menutup retakan tanah dengan tanah lempung untuk mencegah air masuk ke celah-celahnya.

Dari seluruh titik yang disurvei, lanjut Heri, relokasi adalah upaya mitigasi terakhir yang bisa menjadi pilihan. "Warga masih bisa tetap tinggal di lokasi tapi dengan berbagai catatan. Di antaranya membuat rumah semi permanen atau rumah panggung dari kayu, menghindari lereng dan tidak memotong lereng secara tegak bila ingin membuat rumah," pungkasnya. (Rohman/Dibyo).


Share :
Related Article

Isi Komentar Anda

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi Globalaceh.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.


 

Berita FotoIndeks

Jawa TimurIndeks

Lintas DaerahIndeks