BaraJatim.com Tentang Kami Contact Us Info Iklan Privacy Policy
Barisan Relawan Jalan Perubahan (BARA JP) Provinsi Jawa Timur Mengucapkan Selamat dan Sukses Atas Terselenggaranya MUSDA & Pengukuhan BaraJP Jatim di RM. Mahameru Jl. Diponegoro 152 Surabaya 24 Agustus 2016, Bara JP Jatim Mengucapkan Selamat HUT RI Yang ke 71 Th Indonesia Merdeka
Home » , » Kisah di Balik Penghapusan KTKLN, Belajar Semangat Perubahan dari BaraJP Hong Kong

Kisah di Balik Penghapusan KTKLN, Belajar Semangat Perubahan dari BaraJP Hong Kong

Written By Unknown on Selasa, 02 Desember 2014 | 02.13

JAKARTA, barajatim. - comMari secara kreatif mendefinisikan perubahan sebagai pemberontakan versi WS Rendra: Melawan keterbatasan. Kalau sepakat, maka perubahan sama dengan melawan keterbatasan.

            Itulah yang dilakukan para migran di Hong Kong. Tak merasa puas telah mendirikan Barisan Relawan Jokowi Presiden (BaraJP) di Hong Kong, mereka juga mendeklarasikan Barisan Relawan Jalan Perubahan (juga dingkat BaraJP). Mereka sadar betul, perubahan lebih mudah jika diperjuangkan melalui organisasi.

            Perjalanan negara-negara bekas jajahan termasuk Indonesia, penjajah baru bisa diusir ketika rakyat sudah mengorganisasi diri.

            Kita tahu, semangat merdeka dibangun melalui pembentukan organisasi, dimulai Serikat Dagang Islam (SDI) 16 Oktober 1905, kemudian Boedi Oetomo (20 Mei 1908), menjadi bibit utama kemerdekaan.

            Satu demi satu organisasi tumbuh dan berkembang, sehingga kesadaran kemerdekaan menjadi tujuan bersama.

            "Tak akan ada pemberian kebebasan secara cuma-cuma, Anda semua harus memperjuangkan perbaikan nasib sendiri." Makna itulah yang disampaikan Ferry Alfiand (Tjung Phin) ketika "mengompori" migran, dalam kunjungan ke Hong Kong Juli 2013, agar mendirikan BaraJP. Mendukung perubahan, dengan mendukung Jokowi.

            Bagi BaraJP, gagasan bukan diawali bagaimana mendukung Jokowi, tetapi mendukung perubahan. Dalam semangat perubahan, mencari pemimpin yang bisa dipercaya, dan yang "ditemukan" hanya Jokowi. Jadilah BaraJP lahir di Bandung 15 Juni 2013.

            Gayung bersambut. Para migran, dipelopori Tri Sugito cs, mendirikan BaraJP. Khusus untuk memperjuangkan nasib migran, BaraJP mendirikan Indonesia Migrant Center (IMC). Desember 2013, IMC mengadakan seminar "Hapus Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN)" di Jakarta, dihadiri sejumlah migran dari Hong Kong.

            Sehari setelah seminar, Tri Sugito menemui Jokowi, yang kala itu sebagai Gubernur DKI. Tri berkisah tentang perjuangan migran yang setelah bergabung dengan BaraJP, kemudian juga mendirikan IMC, yang keduanya dipimpin Tri Sugito. KTKLN, menjadi topik yang dibicarakan panjang lebar dengan Jokowi.

            "Koq Pak Jumhur enggak tahu bahwa KTKLN tidak berguna?" itulah tanggapan ringkas Jokowi. "Maka kami yakin, kalau Jokowi menjadi Presiden RI, KTKLN tinggal menunggu saat tepat untuk 'dihanguskan' oleh Jokowi," ungkap Tri, di sela-sela peresmian pengurus BaraJP (Jalan Perubahan) di Hong Kong, Minggu (30/11).

            Jujur saja, ketika mendengar adanya e-blusukan Jokowi dengan migran di 8 negara, saya sudah deg-degan. Akankah Jokowi menghapus KTKLN pada saat e-blusukan? Saya sms-an dengan Bapak Soni Subrata, benar, akan ada e-blusukan. Maka, bersama tiga orang lainnya dari BaraJP (Yayong Waryono, Vivi Jkw dan Emma Radjagukguk), kami bertolak ke Hong Kong, Sabtu (29/11).

            Saya yakin Jokowi menepati janji. Sama seperti keyakinan Tri Sugito. Saya deg-degan namun berharap, supaya KTKLN dihapuskan pada saat blusukan. Sebab bisa ditebak, topik paling hangat dari migran adalah KTKLN, produk anti-logika dari para penindas.

            Saya tambah deg-degan, ketika koneksi dari Hong Kong ke Jakarta, tidak begitu mulus. Maka, begitu koneksi sedikit normal, saya menelepon Pak Soni, agar memberi kesempatan kepada Hong Kong. "Mumpung sinyal lagi bagus Pak," pinta saya kepada Pak Soni. "Oke, setelah ini," kata Pak Soni.

            Tri Sugito berbicara, dilanjutkan Sringatin, Ketua Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) Hong Kong. Saya berdiri di depan (dalam jarak panjang Tri dan Sringatin), memberi semangat (dan sengaja tidak kelihatan oleh kamera). Dua jagoan (Tri-Sringatin), sukses menyampaikan pesan.

            Teman-teman BaraJP dari Korea Selatan dan Taiwan, juga sukses menyampaikan penderitaan yang dialami migran. Ketua DPP (Kawasan Asia) BaraJP, Herman Wenas (bermarkas di Seoul), sukses menyiapkan kadernya dalam e-blusukan ini.

Staf Ahli BNP2TKI

            Sebagai rakyat biasa, andaikan saya bisa mengusulkan siapa yang menjadi staf ahli Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), tak lain tak bukan dua jagoan, Tri Sugito dan Sringatin.

            Merekah yang ahli soal migran, mereka peneliti sungguhan dengan metoda participatory action research (PAR). Tak ada yang lebih pantas dari mereka berdua.

            Meski hanya akan menjadi kertas sampah, saya akan menulis surat kepada Kepala BNP2TKI, agar Tri Sugito dan Sringatin menjadi staf ahli BNP2TKI. Bukan tokoh LSM, bukan akademisi, tetapi pelaku, yang telah lama mengadakan penelitian secara PAR.

            Kita pantas belajar dari semangat perubahan mereka.

Pengurus BaraJP-IMC

            Keasyikan berkisah, lupa menceritakan peresmian pengurus baru BaraJP, yang sekaligus sebagai pengurus IMC. Pelantikan dan e-blusukan,  diadakan di sebuah bioskop di pusat kota Hong Kong.  Konsul Jenderal RI (KJRI) Hong Kong membantu, tetapi tidak memperhatikan koneksi internet untuk e-blusukan. Kalau saja KJRI menyiapkan koneksi, hasilnya akan lebih baik.

            Dalam acara pemotongan tumpeng, Tri memberikan tumpeng kepada Ayu Kharisma dan Sringatin. Kami bersahabat erat dengan JBMI yang dipimpin Sringatin, itu sebabnya kami mengundang Sringatin dalam Kongres BaraJP di Asrama Haji Jakarta, 13-15 Agustus 2014.

            Inilah pengurus BaraJP  dan (merangkap pengurus) IMC Hong Kong: Tri Sugito, Ayu Kharisma, Mul Laeli, Nani Wijayanti, Anik Setiyowati, Artheresia Dethan (Sion), Endang Sunarti, Mariana Karuntu, Sakiyah, Tridayati, Mimin Artika, Riskysari, Dewi Priatin, Dina Seru, Atika dan Wahyu Sri. (Sihol Manullang, Baranews.co dari Hong Kong).***
Share :
Related Article

Isi Komentar Anda

Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi Globalaceh.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

 

Berita FotoIndeks

Jawa TimurIndeks

Lintas DaerahIndeks